Selasa, 26 September 2017

Teknologi Sistem Cerdas

Teknologi Sistem Cerdas





 1. Defisini Pengantar Teknologi Sistem Cerdas
"Apa itu Teknologi Sistem Cerdas?"
Teknologi Sistem Cerdas atau pada umumnya diketahui kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) istilah yang akan mengingatkan kita dengan kehebatan optimus prime dalam film The Transformers. Kecerdasan buatan memang sering dikaitkan dengan kemampuan robot yang dapat berperilaku seperti manusia. Banyak definisi mengenai Teknologi Sistem Cerdas, berbagai definisi diungkapkan oleh para ahli untuk dapat memberi gambaran mengenai kecerdasan buatan, beberapa diantaranya :
Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) merupakan kawasan penelitian, aplikasi dan instruksi yang terkait dengan pemrograman komputer untuk melakukan sesuatu hal yang dalam pandangan manusia adalah cerdas (H. A. Simon [1987]).
Kecerdasan Buatan (AI) merupakan sebuah studi tentang bagaimana membuat komputer melakukan hal-hal yang pada saat ini dapat dilakukan lebih baik oleh manusia (Rich and Knight [1991]).
Kecerdasan Buatan (AI) merupakan cabang dari ilmu komputer yang dalam merepresentasi pengetahuan lebih banyak menggunakan bentuk simbol-simbol daripada bilangan, dan memproses informasi berdasarkan metode heuristic atau dengan berdasarkan sejumlah aturan (Encyclopedia Britannica).




2. Sejarah Teknologi Sistem Cerdas
Teknologi Sistem Cerdas sama dengan teknologi lain yang memiliki sejarah dan perkembangan. Pada awal abad 17, RenĂ© Descartes mengemukakan bahwa tubuh hewan bukanlah apa-apa melainkan hanya mesin-mesin yang rumit. Blaise Pascal menciptakan mesin penghitung digital mekanis pertama pada 1642. Pada 19, Charles Babbage dan Ada Lovelace bekerja pada mesin penghitung mekanis yang dapat diprogram. Bertrand Russell dan Alfred North Whitehead menerbitkan Principia Mathematica, yang merombak logika formal. Warren McCulloch dan Walter Pitts menerbitkan “Kalkulus Logis Gagasan yang tetap ada dalam Aktivitas ” pada 1943 yang meletakkan pondasi untuk jaringan syaraf. Tahun 1950-an adalah periode usaha aktif dalam AI. Program AI pertama yang bekerja ditulis pada 1951 untuk menjalankan mesin Ferranti Mark I di University of Manchester (UK): sebuah program permainan naskah yang ditulis oleh Christopher Strachey dan program permainan catur yang ditulis oleh Dietrich Prinz. John McCarthy membuat istilah “kecerdasan buatan ” pada konferensi pertama yang disediakan untuk pokok persoalan ini, pada 1956. Dia juga menemukan bahasa pemrograman Lisp. Alan Turing memperkenalkan “Turing test” sebagai sebuah cara untuk mengoperasionalkan test perilaku cerdas. Joseph Weizenbaum membangun ELIZA, sebuah chatterbot yang menerapkan psikoterapi Rogerian. Selama tahun 1960-an dan 1970-an, Joel Moses mendemonstrasikan kekuatan pertimbangan simbolis untuk mengintegrasikan masalah di dalam program Macsyma, program berbasis pengetahuan yang sukses pertama kali dalam bidang matematika. Marvin Minsky dan Seymour Papert menerbitkan Perceptrons, yang mendemostrasikan batas jaringan syaraf sederhana dan Alain Colmerauer mengembangkan bahasa komputer Prolog. Ted Shortliffe mendemonstrasikan kekuatan sistem berbasis aturan untuk representasi pengetahuan dan inferensi dalam diagnosa dan terapi medis yang kadangkala disebut sebagai sistem pakar pertama. Hans Moravec mengembangkan kendaraan terkendali komputer pertama untuk mengatasi jalan berintang yang kusut secara mandiri.
Pada tahun 1980-an, jaringan syaraf digunakan secara meluas dengan algoritma perambatan balik, pertama kali diterangkan oleh Paul John Werbos pada 1974. Tahun 1990-an ditandai perolehan besar dalam berbagai bidang AI dan demonstrasi berbagai macam aplikasi. Lebih khusus Deep Blue, sebuah komputer permainan catur, mengalahkan Garry Kasparov dalam sebuah pertandingan 6 game yang terkenal pada tahun 1997. DARPA menyatakan bahwa biaya yang disimpan melalui penerapan metode AI untuk unit penjadwalan dalam Perang Teluk pertama telah mengganti seluruh investasi dalam penelitian AI sejak tahun 1950 pada pemerintah AS. Tantangan Hebat DARPA, yang dimulai pada 2004 dan berlanjut hingga hari ini, adalah sebuah pacuan untuk hadiah $2 juta dimana kendaraan dikemudikan sendiri tanpa komunikasi dengan manusia, menggunakan GPS, komputer dan susunan sensor yang canggih, melintasi beberapa ratus mil daerah gurun yang menantang.




3. Penerapan Teknologi Sistem Cerdas dalam Kehidupan Sehari-hari
Beberapa penerapan teknologi sistem cerdas dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:
Vending Machine, PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) yang mulai mengoperasikan mesin tiket atau vending machine di sejumlah stasiun. Vending machine merupakan suatu alat atau mesin yang menjual tiket  secara otomatis. Vending Machine tidak membutuhkan tenaga operator untuk menjual barang, kita dapat memilih sendiri tiket kereta yang kita inginkan. Keberadaan mesin tiket pada layanan KRL commuter line bertujuan untuk mengurangi antrean transaksi di loket.


sumber: http://www.smtrail.com
Nama : Muhamad Irfan Maulana
NPM : 14115388
Kelas : 3KA30

Senin, 19 Juni 2017

SERVICE LEVEL AGREEMENT (SLA) DAN OPERATIONAL-LEVEL AGREEMENT (OLA)

Service Level Agreement

 Pengertian dan Definisi SLA
SLA singkatan dari Service Level Agreement atau jika diterjemahkan adalah, Perjanjian Tingkat Layanan , Pengertian SLA adalah bagian dari perjanjian layanan secara keseluruhan antara 2 dua entitas untuk peningkatan kinerja atau waktu pengiriman harus di perbaiki selama masa kontrak. Dua entitas tersebut biasanya dikenal sebagai penyedia layanan dan klien, dan dapat melibatkan perjanjian secara hukum karena melibatkan uang, atau kontrak lebih informal antara unit-unit bisnis internal.
SLA ini biasanya terdiri dari beberapa bagian yang mendefinisikan tanggung jawab berbagai pihak, dimana layanan tersebut bekerja dan memberikan garansi, dimana jaminan tersebut bagian dari SLA memilikitingkat harapan yang disepakati, tetapi dalam SLA mungkin terdapat tingkat ketersediaan, kemudahan layanan, kinerja, operasi atau tingkat spesifikasi untuk layanan itu sendiri. Selain itu, Perjanjian Tingkat Layanan akan menentukan target yang ideal, serta minimum yang dapat diterima.
Mengapa SLA dibutuhkan
SLA dibutuhkan jika dilihat dari sisi Penyedia layanan adalah sebagai jaminan atas service yang diberikan kepada klien, sehingga klien tersebut bisa puas atas layanan yang diberikan, dampak lain yang akan muncul dari sisi penyedia layanana adalah konsep pemasaran tradisional yaitu pemasaran dari mulut ke mulut , maksudnya adalah klien akan memberikan rekomendasi kepada temannya/ rekan lainnya bahwa layanan yang diberikan oleh penyedia tersebut bagus, sehingga berharap teman/ rekan lainnya mau berlangganan kepada provider/ penyedia layanan tersebut
Dari sisi Klien adalah menjamin aspek ketersedian  (availability) informasi(kalau kita mengacu kepada konsep informasi yang berkualias, adalah mengacu kepada availability, accurate, Update). Sehingga pihak klien merasa terbantu dengan ketersediaan layanan yang diberikan oleh pihak provider, sehingga proses pengelolaan data/ informasi dengan pihak-pihak terkait (customer/ vendor) berjalan lancar & tidak terganggu karena layanan itu mati, bisa dibayangkan jika klien tersebut adalah sebuah institusi perbankan (dimana layanan yang dibutuhkan adalah 24 jam , dengan kata lain layanan internet nya tidak boleh down (mati), dan bisa dibayangkan juga jika layanan dari perbankan itu down (mati), akibatnya dari aspek pemasaran nasabahnya dari bank tersebut tidak akan percaya , sehingga dampak yang paling tragis adalah nasabah tersebut akan berpindah kepada layanan dari bank lain ?, begitupula layanan-layanan lainnya seperti Perguruan tinggi, yang nantinya akan berdampak kepada image yang kurang baik dari perguruan tinggi tersebut.
                                               
                                                                       Contoh dari SLA 
Image result for service level agreement adalah
SLA sebagai layanan untuk Aplikasi Bisnis
Dengan mengetahui hal itu, diharapkan tingkat pelayanan dan juga tingkat minimum, pelanggan dapat menggunakan layanan dengan maksimal. Hal ini juga sangat membantu jika klien adalah perantara, yang menjual kembali atau bundling dengan pelayanan yang lebih besar yang sedang dijual. SLA telah digunakan sejak awal 1980-an oleh perusahaan telepon dengan pelanggan dan reseller yang lebih besar perusahaannya dengan pelayanan mereka. Konsep “tertangkap” dari bisnis unit dan usaha lainnya dalam perusahaan besar mulai menggunakan istilah dan pengaturan yang ideal dalam awal kontrak layanan telekomunikasi.
Ide menciptakan sebuah layanan yang lebih besar dari layanan yang lebih kecil hampir membutuhkan SLA dari penyedia jasa. Misalnya, untuk memiliki cakupan ponsel nasional, Anda tidak perlu untuk membangun menara dan antena di seluruh kota. Sebaliknya, Anda bisa menemukan perusahaan lokal dan daerah yang menawarkan layanan yang sama, menulis tentang SLA dan mengukur hasilnya. Untuk pelanggan anda, anda akan menawarkan SLA yang sama. Dalam SLA asli tidak memerlukan perusahaan dari mana anda membeli, dan anda dapat mengontrol biaya anda, ketika pelanggan mematuhi SLA yang anda buat dengan mereka. Hal ini memberikan kemampuan bagi Perusahaan untuk menggunakan banyak sub kontraktor untuk menyediakan pelayanan yang lebih besar, namun mengendalikan biaya dan sumber daya untuk menawarkan produk yang lebih besar.
Penggunaan SLA tidak terbatas pada dunia IT atau telekomunikasi – mereka juga digunakan untuk real estate, medis dan bidang apapun yang menyediakan produk atau layanan kepada pelanggan.Layanan berorientasi manusia dan bisnis memiliki kebutuhan untuk mengukur dan memikul tanggung jawab, dan SLA menyediakan pengukuran dan ide bagi entitas untuk menyepakati.
  
    Operational Lever Agreement 
Operational Level Agreement (OLA) mendefinisikan hubungan saling tergantung dalam mendukung Service-level agreement (SLA). Kesepakatan tersebut menggambarkan tanggung jawab masing-masing kelompok pendukung internal terhadap kelompok pendukung lainnya, termasuk proses dan kerangka waktu untuk penyampaian layanan mereka. Tujuan OLA adalah untuk menyajikan deskripsi dukungan internal dari penyedia layanan yang jelas, ringkas dan terukur.

OLA kadang diperluas ke frase lain tapi semuanya memiliki arti yang sama:
·        Organisational Level Agreement
·        Operating Level Agreement
·        Operations Level Agreement

    PERBEDAAN SLA DAN OLA
1.   Service Level Agreement berfokus pada bagian layanan dari perjanjian,    seperti uptime layanan dan kinerja. Di sisi lain, Perjanjian Tingkat Operasional adalah kesepakatan sehubungan dengan pemeliharaan dan layanan lainnya.
2.  Service Level Agreement pada dasarnya adalah kontrak antara penyedia layanan dan pelanggan. OLA adalah kesepakatan antara kelompok pendukung internal sebuah institusi yang mendukung SLA.
3.  Saat membandingkan kelompok sasaran, OLA memiliki kelompok sasaran lebih kecil daripada SLA.
4.  Berbeda dengan OLA, SLA menghubungkan penyedia layanan ke pelanggan.
5. Perjanjian Tingkat Operasional lebih bersifat teknis daripada Service Level Agreement.


Contoh Kasus
Cara menghitung SLA, tergantung dari layanan yang diberikan , sebagai contoh yang saya ketahui beberapa provider IT  khususnya provider / penyedia layanan internet memberikan SLA antara 96% – 99%, artinya dalam 1 bulan pihak provider menjamin bahwa layanan yang diberikan adalah :
Menghitung SLA (asumsi dengan SLA 98%, artinya layanan standard mereka 98% dalam 1 bulan, dan 2% dianggap wajar jika terjadi mati (down) dalam layanan tersebut)
1 hari = 24 jam 
1 bulan = 30 hari
Biaya bulanan Internet = Rp. 1.000.000
==> 1 bulan = 30 hari x 24 jam = 720 Jam (720 jam merupakan layanan 100%)
==> Sedangkan jika 98% maka layanan standard mereka adalah
==> 98% * 720 jam = 705.6 jam (layanan standard mereka, sisanya 14.4 jam dianggap wajar jika layanan itu mati (down)
Pengertian Restitusi dan Bagaimana menghitung Restitusi
Restitusi adalah pengembalian dalam bentuk (bisa dalam bentuk pembayaran (uang), ataupun lainnya (tergantung kontrak) dari pihak penyedia layanan kepada klien.
Sebagai contoh (dengan mengambil lanjutan perhitungan diatas), jika klien mempunyai kewajiban membayar Rp. 1.000.000 :
Biaya bulanan internet = Rp. 1.000.000
SLA layanan (contoh bulan Juli)  = 76,6% (100% – 23,3%), artinya pihak provider bulan juli hanya bisa memberikan layanan internet sebesar 76,6% artinya ada selisih (98% – 76.6% = 21.3%, yang tidak bisa dipenuh oleh pihak provider)
Nah 21,3 % itu adalah hak kita u/ mendapatkan penggantian, penggantian ini biasanya dlm bentuk pengurangan pembayaran, misalkan kita bayar
1bulan Rp. 1.000.000 = untuk layanan 98% (1% sekitar Rp. 10.204)
Maka u/ layanan hanya 76.6% = 1.000.000 – (21.3% X Rp. 10.204)
=  Rp1.000.000 – Rp. 217.345
    =  Rp. 782.654
Artinya dlm bulan ini kita hanya punya kewajiban membayar sekitar Rp. 782.654
Semoga dengan sharing yang lumayan panjang ini J, bisa bermanfaat khususnya bagi rekan-rekan yang belum memahami SLA, dan  bisa dilanjutkan dengan mengaplikasikannya, terutama jika kita mendapatkan masalah terkait layanan yang diberikan oleh provider, maka jangan lupa minta no tiketnya, karena no tiket tersebut sebagai dasar perhitungan SLA, kalau saya sering istilahkan adalah bahwa Argo perhitungan SLA nya sudah mulai jalan sejak kita minta nomer tiket.



DAFTAR PUSTAKA

https://bambangsuhartono.wordpress.com/2013/07/26/pengertian-dan-cara-perhitungan-sla-service-level-agreement/

https://en.wikipedia.org/wiki/Operational-level_agreement

Nama : Muhamad Irfan Maulana
Kelas : 2KA30
NPM : 14115388

Jumat, 19 Mei 2017

Membandingkan Kerangka Kerja/Framework Manajemen Layanan Sistem Informasi

Kerangka Kerja (Framework) Manajemen Layanan Sistem Informasi


1. Information Technology Infrastructure Library (ITIL)


ITIL atau Information Technology Infrastructure Library adalah suatu rangkaian dengan konsep dan teknik pengelolaan infrastruktur, pengembangan, serta operasi Teknologi Informasi (TI). ITIL diterbitkan dalam suatu rangkaian buku yang masing-masing membahas suatu topik pengelolaan TI. Nama ITIL dan IT Infrastructure Library merupakan merek dagang terdaftar dari Office of Government Commerce (OGC) Britania Raya.

2. Control Objectives for Information and Related Technology (COBIT)


Control Objective for Information and related Technology (COBIT), adalah suatu panduan standar praktik manajemen teknologi informasi. Standar COBIT dikeluarkan oleh IT Governance Institute yang merupakan bagian dari ISACA. COBIT 4.1 merupakan versi terbaru.

COBIT memiliki 4 cakupan domain, yaitu :
- Perencanaan dan Organisasi (plan and organise)
- Pengadaan dan Implementasi (acquire and implement)
- Pengantaran dan Dukungan (deliver and support)
- Pengawasan dan Evaluasi (monitor and evaluate)

Maksud utama COBIT ialah menyediakan kebijakan yang jelas dan good practice untuk IT governance, membantu manajemen senior dalam memahami dan mengelola risiko-risiko yang berhubungan dengan IT.
COBIT menyediakan kerangka IT governance dan petunjuk control objective yang detail untuk manajemen, pemilik proses bisnis, user dan auditor.


3. Software Maintenance Maturity Model

Maturity Model adalah suatu metode untuk mengukur level pengembangan manajemen proses, yang berarti adalah mengukur sejauh mana kapabilitas manajemen tersebut. Seberapa bagusnya pengembangan atau kapabilitas manajemen tergantung pada tercapainya tujuan-tujuan COBIT.

Sebagai contoh adalah ada beberapa proses dan sistem kritikal yang membutuhkan manajemen keamanan yang lebih ketat dibanding proses dan sistem lain yang tidak begitu kritikal. Di sisi lain, derajat dan kepuasan pengendalian yang dibutuhkan untuk diaplikasikan pada suatu proses adalah didorong pada selera resiko Enterprise dan kebutuhan kepatuhan yang diterapkan.

Secara umum, maturity model biasanya memiliki ciri sebagai berikut:
1. Proses pengembangan dari suatu organisasi disederhanakan dan dideskripsikan dalam wujud tingkatan kematangan dalam jumlah tertentu (biasanya empat hingga enam tingkatan).
2. Tingkatan kematangan tersebut dicirikan dengan beberapa persyaratan tertentu yang harus diraih.
3. Tingkatan - tingkatan yang ada disusun secara sekuensial, mulai dari tingkat inisial sampai pada tingkat akhiran (tingkat terakhir merupakan tingkat kesempurnaan).
4. Selama pengembangan, sang entitas bergerak maju dari satu tingkatan ke tingkatan berikutnya tanpa boleh melewati salah satunya, melainkan secara bertahap berurutan.


4. PRM-IT IBM's Process Reference Model for IT


5. Application Services Library (ASL)


Aplikasi Layanan Perpustakaan (ASL) adalah kerangka kerja domain publik dari praktik terbaik yang digunakan untuk standarisasi proses dalam aplikasi manajemen, disiplin memproduksi dan memelihara sistem informasi dan aplikasi. Istilah “perpustakaan” digunakan karena ASL disajikan sebagai satu set buku yang menggambarkan praktek-praktek terbaik dari industri TI. Hal ini dijelaskan dalam beberapa buku dan artikel (banyak dari mereka hanya tersedia dalam bahasa Belanda) dan di situs resmi ASL BiSL Foundation.


6. Business Information Services Library (BISL)


BiSL adalah standar domain publik sejak tahun 2005, diatur oleh Lembaga ASL BiSL (sebelumnya Lembaga ASL). Kerangka kerja ini menggambarkan standar untuk proses dalam manajemen informasi bisnis di strategi, manajemen dan operasi tingkat. BiSL berkaitan erat dengan kerangka ITIL dan ASL, namun perbedaan utama antara kerangka kerja ini adalah bahwa ITIL dan ASL fokus pada pasokan sisi informasi (tujuan organisasi TI), sedangkan BiSL berfokus pada sisi permintaan (yang timbul dari organisasi pengguna akhir).


7. Microsoft Operations Framework (MOF)

Microsoft Operations Framework (MOF) 4.0 adalah serangkaian panduan yang bertujuan membantu Teknologi Informasi (TI) profesional menetapkan dan menerapkan layanan yang handal dan hemat biaya.




8. eSourcing Capability Model for Service Providers (eSCM-SP) dan eSourcing Capability
Model for Client Organizations (eSCM-CL) dari ITSqc for Sourcing Management

eSourcing Capability Model  for Service Providers (eSCM-SP) adalah suatu kerangka kerja yang dikembangkan oleh ITSqc di Carnegie Mellon University. eSCM-SP adalah “praktik terbaik” model kemampuan dengan tiga tujuan :
·         Untuk memberikan penyedia layanan bimbingan yang akan membantu mereka meningkatkan kemampuan mereka di seluruh sourcing siklus hidup.
·         Untuk menyediakan klien dengan cara yang obyektif mengevaluasi kemampuan penyedia layanan.
·         Untuk menawarkan penyedia layanan standar yang digunakan saat membedakan diri dari pesaing.


N       Nama : Muhamad Irfan Maulana
   NPM   : 14115388
         Kelas : 2KA30

Kamis, 20 April 2017

Manajemen Layanan Sistem Informasi

Review Six Sigma dan Sistem Informasi Manejemen Proyek
ABSTRAK
Penelitian sistem informasi sebelumnya (IS) telah meningkatkan tingkat keberhasilan proyek IS secara signifikan, namun hasilnya masih jauh dari memuaskan. Upaya untuk memajukan teori manajemen proyek IS terus berlanjut. Salah satu upaya penting adalah Ravichandran dan Rai (2000). Berdasarkan prinsip manajemen mutu, mereka mengembangkan model (model R & R) yang menggambarkan sistem organisasi berorientasi mutu yang mengarah pada kinerja kualitas pengembangan perangkat lunak. Penelitian ini menganalisis Six Sigma untuk mengusulkan revisi besar pada model R & R. Six Sigma adalah pendekatan manajemen mutu yang baru dengan efektivitas terbukti. Analisis Six Sigma menunjukkan bahwa beberapa konstruksi dalam model R & R perlu mendapat respekifikasi, yang mengarah pada definisi sistem organisasi berorientasi mutu baru. Lebih penting lagi, model yang direvisi mengemukakan bahwa sistem organisasi baru mengarah pada keberhasilan proyek IS yang dapat diukur dengan peningkatan kinerja organisasi. Studi ini memberikan kontribusi terhadap literatur dan memberikan panduan praktis kepada manajer proyek IS.
KATA KUNCI: sistem informasi; manajemen proyek; Six Sigma.





 PENGANTAR 

Sistem informasi (IS) manajemen proyek telah menjadi topik penting dan menarik baik dalam penelitian akademis maupun majalah dagang. Selama dua dekade terakhir, tren globalisasi dan pesatnya penyebaran teknologi internet telah menyebabkan perusahaan secara kritis mengandalkan berbagai sistem informasi untuk mencapai keunggulan kompetitif (Igbaria, Zinatelli, & Cavaye, 1998; Ives & Learmonth, 1984; T. Powell & Micallef, 1997; Shuit, 2004). Proyek IS memungkinkan perusahaan menyediakan produk atau layanan yang lebih baik. Seringkali kelangsungan hidup dan pertumbuhan perusahaan bergantung pada keberhasilan proyek IS kritis (Haapaniemi, 1996; Nash, 2003). Selain itu, sebagian besar proyek IS memerlukan investasi dan sumber daya dalam jumlah besar. Untuk membuatnya semakin menantang, ketidakpastian yang melekat pada proyek IS tinggi karena kompleksitas teknologi yang terlibat. Semua ini membuat manajemen proyek IS menjadi topik penelitian yang menarik namun menantang. Selama dua dekade terakhir, penelitian dalam manajemen proyek IS telah membantu secara dramatis meningkatkan tingkat keberhasilan proyek, namun hasilnya masih jauh dari memuaskan. Laporan CHAOS (Standish Group, 1994, 2004) menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan proyek IS adalah 34% di tahun 2004, meningkat signifikan dari 16% hanya sepuluh tahun yang lalu. Peningkatan tersebut sebagian besar terkait dengan upaya penelitian ekstensif yang mencakup berbagai bidang, termasuk siklus hidup pengembangan sistem, manajemen kantor proyek, manajemen risiko proyek, dan manajemen pemasok. Namun, perlu dicatat bahwa masih dua pertiga dari proyek IS digolongkan sebagai "gagal" atau "tertantang." Area aplikasi sistem informasi benar-benar memiliki kematangan manajemen proyek terendah (Ibbs & Kwak, 2000). Jelas, peneliti perlu melakukan penelitian lebih lanjut untuk mencari teori baru atau merevisi teori yang ada untuk manajemen proyek IS yang sukses.



Pendekatan Pengembangan Teori
Pendekatan pengembangan teori diadopsi dalam penelitian ini. Upaya pengembangan teori untuk manajemen proyek IS diperlukan karena beberapa alasan. Pertama, pengembangan teori baru melambangkan kemajuan sebuah bidang. Teori mengungkapkan hubungan internal tapi biasanya tak terlihat (Bacharach, 1989) dan membimbing penelitian ilmiah (Van de Ven, 1989). Sebenarnya, banyak penelitian IS telah mengadopsi pendekatan pengembangan teori (misalnya, DeLone & McLean, 1992; Seddon, 1997). Kedua, memperbaiki teori yang ada merupakan langkah penting dan vital untuk memperbaiki tingkat keberhasilan proyek IS. Akhirnya, teori diperlukan untuk memandu penerapan praktik Six Sigma untuk manajemen proyek IS.
IS Manajemen Proyek Sastra
Tiga Tampilan Manajemen Proyek IS
Tinjauan ekstensif literatur manajemen proyek IS dilakukan pertama kali. Upaya tersebut mengidentifikasi tiga pandangan manajemen proyek IS dalam literatur: pandangan teknis, pandangan sosial dan organisasi, dan pandangan terpadu. Pandangan teknis menganggap pengembangan IS sebagai tugas teknis dan menekankan proses pengembangan IS berbasis teknologi, yang mencakup metode pengembangan, perangkat, perangkat keras, dan perangkat lunak (Cooprider & Henderson, 1991). Di bawah pandangan teknis, faktor teknis sangat penting bagi keberhasilan proyek IS. Studi yang berbeda telah mengidentifikasi faktor teknis yang berbeda. Misalnya, Saarinen (1990) mengembangkan pendekatan situasional untuk memilih metode pengembangan sistem yang tepat dan alat yang berkontribusi terhadap keberhasilan proyek IS. Deephouse, Mukhopadhyay, Goldenson, dan Kellner (1996) mempelajari pengaruh proses perangkat lunak pada kinerja proyek. Subramanian, Jiang, dan Klein (2007) menemukan bahwa prototyping, sebagai strategi implementasi IS, secara signifikan mempengaruhi kualitas perangkat lunak dan kinerja proyek. Singkatnya, pandangan teknis menunjukkan bahwa kunci keberhasilan proyek IS adalah pemilihan dan pengelolaan faktor teknis yang hati-hati.



Pandangan sosial dan organisasi menganggap faktor sosial dan organisasi menjadi lebih penting, dan mereka lebih mendapat perhatian daripada faktor teknis dalam pengembangan IS (Doherty & King, 1998a, 1998b). Robey, Smith, dan Vijayasarathy (1993) menemukan bahwa partisipasi, pengaruh, konflik, dan resolusi konflik sangat penting untuk keberhasilan proyek. Sepanjang garis pemikiran yang sama, Barki dan Hartwick (2001) menunjukkan dampak konflik interpersonal dan manajemen konflik terhadap hasil proyek IS. Yang lain mempelajari pengaruh komitmen manajemen dan pengendalian kinerja proyek IS (Barki & Hartwick, 1994; Marmer, 2003; Wang, Shih, Jiang, & Klein, 2006). Thompson, Smith, dan Iacovou (2007) menunjukkan bahwa hubungan antara kinerja proyek dan kualitas pelaporan proyek IS "biasanya merupakan rangkaian komunikasi berurutan atas organisasi" (halaman 197). Singkatnya, pandangan ini menunjukkan bahwa kesuksesan proyek IS adalah hasil dari pengelolaan faktor sosial dan organisasi yang efektif. Menyadari bahwa proyek IS sering melibatkan pemangku kepentingan yang berbeda, berbagai sumber daya, dan aktivitas yang rumit selama proses pembangunan, pandangan terpadu menganggap kunci sukses sebagai interaksi antara faktor teknis dan sosial dan organisasi. dari integrasi sosial dalam proyek pembangunan IS. Mitchell (2006) meneliti hubungan antara kemampuan integratif manajemen dan kinerja proyek TI. Pandangan integratif bersifat holistik karena Misalnya, Aladwani (2002b) mengembangkan model kinerja terpadu untuk menyediakan beberapa panduan untuk mengelola proyek IS secara efektif. Selain itu, Aladwani (2002a) menyelidiki anteseden dan konsekuensi mempertimbangkan karakteristik teknis dari proyek IS dan lingkungan organisasi yang mendukung proyek IS. Oleh karena itu, pandangan integratif merupakan jalur penelitian yang bermanfaat. Bagian selanjutnya menjelaskan satu pendekatan penting terhadap manajemen proyek IS berdasarkan pandangan ini: pendekatan sistem organisasi yang berorientasi pada kualitas. 
 
Pendekatan Sistem Organisasi Berorientasi Mutu terhadap Manajemen Proyek IS

Membandingkan pendekatan yang berbeda, pendekatan sistem organisasi berorientasi kualitas muncul sebagai strategi yang menjanjikan untuk meningkatkan keberhasilan proyek IS. Total quality management (TQM) telah membuktikan keefektifannya di berbagai organisasi sejak awal (Buzzell & Gale, 1987; Hendricks & Singhal, 2001). Tema sentral TQM adalah bahwa peningkatan kualitas secara terus-menerus, seperti yang didefinisikan oleh pelanggan, akan menghasilkan keunggulan kompetitif dan kinerja keuangan yang berkelanjutan (Deming, 1982; T. C. Powell, 1995). Kunci sukses TQM adalah membangun sistem organisasi yang berorientasi pada kualitas yang mendukung peningkatan kualitas secara terus menerus (Ahire, Landeros, & Golhar, 1995; Dean & Bowen, 1994). Pada saat yang sama, TQM menekankan pentingnya alat dan teknik yang tepat seperti siklus Plan-Do-Study-Act yang terkenal (Deming, 2000). Integrasi ketat antara faktor teknis dan organisasi menjadikannya pendekatan yang efektif terhadap kesuksesan proyek IS. Beberapa penelitian telah mengadopsi pendekatan ini untuk menghasilkan hasil yang mendalam. Misalnya, Chow dan Lui (2003) mempelajari dampak delapan faktor TQM terhadap kinerja fungsi IS untuk menemukan bahwa tiga faktor (dukungan manajemen puncak, desain produk / layanan, dan pelaporan informasi berkualitas) memiliki efek positif yang signifikan. Dalam studi serupa, Ravichandran dan Rai (1999) meneliti hubungan antara 11 konstruksi manajemen mutu dan kinerja kualitas dalam pengembangan IS. Mereka mengidentifikasi pengendalian proses dan efisiensi proses sebagai konstruksi kunci. Studi lain menemukan bahwa faktor lingkungan, organisasi, dan tugas terkait mempengaruhi kecepatan dan intensitas adopsi TQM dalam pengembangan IS (Ravichandran, 2000). Green, Hevner, dan Collins (2005) menunjukkan bahwa persepsi kualitas dan produktivitas memiliki dampak signifikan terhadap penggunaan inovasi perbaikan proses perangkat lunak. Semua studi ini dengan jelas menunjukkan bahwa pendekatan sistem organisasi yang berorientasi pada kualitas dapat secara signifikan menguntungkan manajemen proyek IS.

Di antara beberapa penelitian, studi Ravichandran dan Rai (2000) terkenal karena mengembangkan dan menguji model komprehensif untuk kinerja kualitas perangkat lunak. Mereka menganalisis prinsip dan praktik manajemen mutu dari perspektif desain organisasi makro (Melcher, 1976; Robey & Sales, 1994). Mereka mendefinisikan beberapa konstruksi mengikuti kerangka proses kepemimpinan-struktur dan menghubungkannya dengan kinerja kualitas pengembangan perangkat lunak (lihat Gambar 1; panah bertitik tidak didukung oleh studi empiris mereka). Pada tingkat kepemimpinan, mereka mendefinisikan sebuah konsep yang disebut kepemimpinan manajemen puncak, sejauh mana para manajer IS senior memulai dan mendukung peningkatan kualitas IS. Pada tingkat struktur, model R & R mendefinisikan kecanggihan infrastruktur manajemen sebagai penciptaan lingkungan organisasi yang berorientasi pada kualitas untuk mengelola proses inti. Pada tingkat proses, model R & R mendefinisikan keefektifan manajemen proses dan partisipasi pemangku kepentingan yang mengacu pada proses pengembangan yang sistematis dan pembentukan kontribusi dari semua peserta. Model R & R kemudian menggambarkan bagaimana konstruksi terkait dengan variabel hasil, kinerja kualitas pengembangan perangkat lunak. Kombinasi unik dari perspektif manajemen mutu dan desain organisasi mengarah pada pemilihan model R & R sebagai Teori A dalam penelitian ini.

Six Sigma
Ikhtisar
Istilah Six Sigma pertama kali digunakan di Motorola pada tahun 1980an (Barney, 2002). Seperti banyak perusahaan lainnya, Motorola menemukan bahwa biaya kualitas rendah sama tinggi dengan 15% sampai 20% dari pendapatan penjualan (Crosby, 1979). Ini karena proses produksi memiliki kemampuan rendah. Sebagian besar produk tidak memenuhi persyaratan pelanggan sehingga harus dibatalkan, dikerjakan ulang, atau dikerjakan di lapangan jika sudah dikirim ke pelanggan. Biaya kualitas yang buruk dapat sangat berkurang dan secara langsung akan berkontribusi pada bottom line perusahaan jika hanya sedikit produk yang rusak diproduksi (Pande et al., 2000). Relevansi dengan IS Project Management Six Sigma relevan dengan manajemen proyek IS. Implementasi Six Sigma berbasis proyek (Breyfogle et al., 2001; Pande et al., 2000); Oleh karena itu, manajemen proyek sangat penting bagi Six Sigma. Six Sigma memiliki metode manajemen proyek yang terkenal yang mendefinisikan, mengukur, menganalisis, memperbaiki, dan mengendalikan (DMAIC). Metode ini didukung oleh berbagai alat dan teknik. Metode DMAIC telah terbukti sangat efektif untuk hampir semua proyek perbaikan proses. Analisis Kritis Six Sigma Dibandingkan dengan TQM, Six Sigma telah memperkenalkan beberapa prinsip baru dan praktik terkait. Prinsip-prinsip baru ini telah berkontribusi pada keberhasilan dan difusi luas Six Sigma (Schroeder dkk., Di media cetak). Tabel 1 menyajikan lima prinsip yang berasal dari tinjauan literatur yang ekstensif mengenai Six Sigma.

Model Teoritis yang Direvisi untuk Sukses Proyek IS
Analisis Six Sigma di atas menunjukkan bahwa perspektif desain makro-organisasi dimana model R & R dikembangkan tetap valid. Six Sigma mewarisi filosofi manajemen mutu. Ini menekankan kepemimpinan yang kuat, menuntut terciptanya struktur organisasi yang berdedikasi, dan mengamanatkan penerapan alat dan teknik manajemen proses yang disiplin. Oleh karena itu, adalah mungkin untuk merevisi model R & R untuk mencerminkan perkembangan baru dalam manajemen.

Mutu Hasil:IS Project Success
Perluasan domain yang berlaku dari teori revisi terkait erat dengan isu pengukuran keberhasilan proyek IS. Dalam literatur IS, keberhasilan proyek telah diukur pada tingkat yang berbeda (DeLone & McLean, 1992). Pada tingkat teknis, sistem informasi dapat diukur dengan seberapa akurat dan efisien sistem tersebut menghasilkan informas
i.

TQM dan Six Sigma memberikan kontras yang menarik untuk kemungkinan pendekatan baru. Program TQM menghadapi tantangan serupa dalam menunjukkan dampak organisasi di tahun 1990an. Banyak proyek perbaikan dilaksanakan dengan itikad baik, namun dampaknya terhadap kinerja organisasi tidak diketahui atau tidak terlihat dengan jelas. Seiring waktu, hal ini menyebabkan menurunnya dukungan manajemen dan semangat kerja karyawan ..

TQM dan Six Sigma memberikan kontras yang menarik untuk kemungkinan pendekatan baru. Program TQM menghadapi tantangan serupa dalam menunjukkan dampak organisasi di tahun 1990an. Banyak proyek perbaikan dilaksanakan dengan itikad baik, namun dampaknya terhadap kinerja organisasi tidak diketahui atau tidak terlihat dengan jelas. Seiring waktu, hal ini menyebabkan menurunnya dukungan manajemen dan semangat kerja karyawan ..
Buat Respecification
Langkah selanjutnya adalah mengklarifikasi konstruksi dalam model R & R. Membangun respekifikasi merupakan langkah penting dalam merevisi model teoritis karena makna, ruang lingkup, dan tingkat abstraksi untuk konstruk lama mungkin telah berubah dalam konteks yang baru. Dengan demikian perlu untuk memeriksa apakah konstruksi lama masih berlaku, dan jika tidak, bagaimana seharusnya direvisi (Bacharach, 1989). Bagian selanjutnya menganalisa konstruk lama dalam model R & R untuk mengajukan spesifikasi baru, jika perlu.
Kurang perhatian pada pengguna eksternal. Risiko kegagalan proyek akibat inkonsistensi antara pengguna internal dan eksternal sangat berkurang. Ketiga, definisi baru ini menekankan bahwa sebuah organisasi secara eksplisit mencari budaya dan sistem organisasi yang berorientasi pelanggan. Ini membantu mengurangi resistensi terhadap perubahan. Keempat, redefinisi ini akan menghasilkan pemilihan proyek IS yang lebih baik. Prinsip orientasi pelanggan mengharuskan setiap proyek untuk secara jelas menunjukkan bahwa ia dapat memberi nilai tambah bagi pelanggan, secara efektif mengurangi kemungkinan memilih proyek karena kenyamanan. Akhirnya, redefinisi ini membuat pengukuran keberhasilan proyek dalam istilah pelanggan menjadi tugas yang mudah. Karena proyek dipilih untuk memberi nilai tambah bagi pelanggan, keberhasilan proyek dapat dengan mudah diukur karena apakah tujuan tercapai atau tidak. Tentu, proyek yang sukses berkontribusi terhadap peningkatan kinerja organisasiLangkah selanjutnya adalah mengklarifikasi konstruksi dalam model R & R. Membangun respekifikasi merupakan langkah penting dalam merevisi model teoritis karena makna, ruang lingkup, dan tingkat abstraksi untuk konstruk lama mungkin telah berubah dalam konteks yang baru. Dengan demikian perlu untuk memeriksa apakah konstruksi lama masih berlaku, dan jika tidak, bagaimana seharusnya direvisi (Bacharach, 1989). Bagian selanjutnya menganalisa konstruk lama dalam model R & R untuk mengajukan spesifikasi baru, jika perlu. Kurang perhatian pada pengguna eksternal. Risiko kegagalan proyek akibat inkonsistensi antara pengguna internal dan eksternal sangat berkurang. Ketiga, definisi baru ini menekankan bahwa sebuah organisasi secara eksplisit mencari budaya dan sistem organisasi yang berorientasi pelanggan. Ini membantu mengurangi resistensi terhadap perubahan. Keempat, redefinisi ini akan menghasilkan pemilihan proyek IS yang lebih baik. Prinsip orientasi pelanggan mengharuskan setiap proyek untuk secara jelas menunjukkan bahwa ia dapat memberi nilai tambah bagi pelanggan, secara efektif mengurangi kemungkinan memilih proyek karena kenyamanan. Akhirnya, redefinisi ini membuat pengukuran keberhasilan proyek dalam istilah pelanggan menjadi tugas yang mudah. Karena proyek dipilih untuk memberi nilai tambah bagi pelanggan, keberhasilan proyek dapat dengan mudah diukur karena apakah tujuan tercapai atau tidak. Tentu, proyek yang sukses berkontribusi terhadap peningkatan kinerja organisasi.

STRUKTUR: INFRASTRUKTUR MANAJEMEN DEDIKASI
Mengikuti kepemimpinan yang kuat adalah struktur organisasi yang efektif. Analisis Six Sigma sebelumnya menunjukkan bahwa definisi R & R perlu ekspansi. Model R & R mendefinisikan kecanggihan infrastruktur manajemen sebagai representasi "properti struktural dari organisasi IS yang menciptakan lingkungan organisasi yang berorientasi pada kualitas untuk proses inti dan praktik kerja" (Ravichandran & Rai, 2000, hal 387). Mereka memberi tiga sifat penting untuk konstruksi: kebijakan mutu dan sasaran, komitmen terhadap pengembangan keterampilan, dan orientasi kualitas skema penghargaan. Model R & R kemudian menyajikan argumen yang meyakinkan mengapa properti ini berkontribusi terhadap kualitas perangkat lunak. Ketiga sifat ini dipertahankan dalam model yang direvisi. Namun, analisis Six Sigma menunjukkan bahwa dua sifat baru sangat penting bagi struktur organisasi yang efektif dan perlu ditambahkan: struktur organisasi yang berdedikasi dan peran manajemen proyek yang berdedikasi. Penelitian ini kemudian mengusulkan untuk mengganti nama konstruksi baru menjadi infrastruktur manajemen khusus.
PROSES: DISIPLIN PROSES MANAJEMEN
Mengikuti kepemimpinan dan struktur adalah proses. Dengan kepemimpinan yang kuat dan struktur organisasi yang berdedikasi, organisasi masih perlu mengembangkan dan mengelola proses untuk melaksanakan keputusan yang dibuat. Model R & R mendefinisikan dua konstruksi pada tingkat proses. Ini mendefinisikan keefektifan manajemen proses untuk proses operasional inti sebagai "sejauh mana proses perancangan dan pengembangan inti didefinisikan, dikendalikan, dan ditingkatkan secara sistematis" (Ravichandran & Rai, 2000, hal 387).

PROSES: PARTISIPASI STAKEHOLDER
Model R & R juga mendefinisikan manajemen proses penting lainnya mengenai aspek perilaku: partisipasi pemangku kepentingan. Ini mewakili "sejauh mana praktik kerja ditetapkan sehingga kelompok penyusun memberikan kontribusi basis pengetahuan dan melengkapi sumber pengetahuan kelompok penyusun lain yang terlibat dalam pengembangan sistem" (Ravichandran & Rai, 2000, hal 387). Definisi konseptual kemudian dioperasionalkan sebagai tiga kelompok penyusun: pemrogram / analis, pengguna, dan vendor. Meskipun "pengguna" dapat ditafsirkan secara luas termasuk pengguna internal dan eksternal, dapat disimpulkan dari penelitian mereka bahwa model R & R tidak mempertimbangkan pengguna eksternal. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, pengguna eksternal biasanya adalah pelanggan sejati ke sistem informasi, dan akhirnya mereka menentukan apakah sebuah sistem informasi berhasil atau tidak. Pemeriksaan dampak organisasi suatu sistem informasi tidak boleh mengabaikan pengguna eksternal. Kelalaian pengguna eksternal mungkin adalah alasan mengapa uji empiris di Ravichandran dan Rai (2000) tidak menemukan hubungan yang signifikan antara partisipasi stakeholder dan kinerja kualitas perangkat lunak. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan untuk secara eksplisit memasukkan pengguna eksternal dalam definisi pemangku kepentingan yang dioperasionalkan.
MODEL REVISI
Bagian ini menentukan hubungan antara konstruksi yang didefinisikan ulang. Keempat konstruksi tersebut berkontribusi terhadap kesuksesan proyek IS, namun penting juga untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana konstruksi ini saling terkait untuk membentuk sistem organisasi yang berorientasi pada kualitas. Hubungan antara konstruksi disajikan dengan menggunakan bentuk proposisi yang dapat diuji. Model yang direvisi diilustrasikan pada Gambar 2.

Kesimpulan
Penelitian ini merevisi model teoritis Ravichandran dan Rai (2000) (model R & R) untuk menggabungkan kemajuan terbaru dari praktik manajemen mutu (yaitu, Six Sigma). Model R & R menyajikan sistem organisasi berorientasi mutu untuk kinerja kualitas pengembangan perangkat lunak. Six Sigma adalah pendekatan manajemen mutu yang berhasil dan telah membuktikan keefektifannya di banyak perusahaan (Pande et al., 2000). Studi ini melakukan penilaian kritis terhadap Six Sigma untuk mengusulkan revisi besar pada model R & R. Model revisi dikembangkan mengikuti pendekatan pengembangan teori (Bacharach, 1989; Dubin, 1978). Domain, konstruksi, dan hubungan yang berlaku antara konstruksi dalam model R & R asli diperiksa dan direvisi secara hati-hati.

Nama:Muhamad Irfan Maulana
Kelas : 2KA30
NPM : 14115388


 https://www.pmi.org/learning/library/six-sigma-information-systems-model-2398